KENDAL — Enam organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah di Kabupaten Kendal disatukan dalam satu forum kaderisasi.
Melalui KaderCamp Majelis Pembina Kader dan Sumberdaya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal, arah perkaderan AMM didorong lebih terintegrasi, tidak lagi berjalan parsial.
KaderCamp digelar Sabtu-Ahad (5-6/9/2026) di Wisata Kalikesek, Desa Sriwilan, Kecamatan Limbangan.
Sebanyak 68 peserta mengikuti kegiatan yang mempertemukan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Nasyiatul Aisyiyah (NA), Pemuda Muhammadiyah, Hizbul Wathan (HW), Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM), serta unsur MPKSDI PDM Kendal.
Ketua panitia Naufal Abdul Latif mengatakan, KaderCamp menjadi ruang menyamakan persepsi sekaligus membangun sinergi kaderisasi antarortom.
“Peserta berasal dari enam ortom Muhammadiyah dan unsur MPKSDI. Harapannya, hasil KaderCamp tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi diwujudkan dalam gerakan nyata dan berkelanjutan,” katanya, Sabtu (5/9/2026).
Materi dikemas melalui diskusi kelompok. Kelompok pertama yang terdiri atas NA, Pemuda Muhammadiyah, dan IMM membahas “Menilik Peran AMM dalam Agenda Muhammadiyah”. Kelompok kedua dari IPM, HW, dan TSPM berdiskusi bersama Ketua Majelis Dikdasmen dengan tema “Menilik Kembali Fungsi Pengkaderan AUM Pendidikan”.
Ketua MPKSDI PDM Kendal Edy Hansa menegaskan, KaderCamp digelar karena proses kaderisasi masing-masing ortom masih belum berjalan dalam satu ekosistem.
Ada ortom yang telah berjalan baik, namun sebagian lainnya masih menghadapi kendala, sehingga membutuhkan penguatan dan kolaborasi.
“Intinya, kami ingin semua AMM mempunyai persepsi perkaderan yang sama. Kita membangun integrasi perkaderan agar antarortom bisa berkolaborasi dan memiliki pemikiran yang sama untuk memajukan ortom di Kendal,” tegas Edy.
Wakil Ketua PDM Kendal Samsul Hidayat menambahkan, kader Muhammadiyah harus berpegang teguh pada manhaj perjuangan Muhammadiyah, baik dalam ibadah maupun muamalah.
Menurutnya, nilai perkaderan harus menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari dan tidak berhenti di ruang kegiatan.
“Pengaderan jangan sekadar formalitas. Setelah kembali ke lingkungan masing-masing, nilai-nilai Muhammadiyah harus benar-benar diterapkan di mana pun kader berada,” tegasnya.
Kegiatan ditutup dengan evaluasi, penyusunan rencana tindak lanjut (RTL), serta pembacaan dan penandatanganan “Komitmen Kalikesek”.
Komitmen tersebut menjadi pijakan memperkuat kolaborasi ortom dan AUM dalam membangun ekosistem kaderisasi Muhammadiyah di Kendal, sehingga seluruh AMM dapat bergerak bersama, saling menguatkan, dan fastabiqul khairat untuk melahirkan kader yang tangguh, berkomitmen, dan berkemajuan. (fur)
