MALAM menjelang 1 Muharram di Desa Ringinarum selalu meriah. Di pelataran masjid, suara tabuhan rebana bersahutan dengan riang.
Dari balik jendela rumahnya, Lek Salim tersenyum hangat menyaksikan anak-anak berlarian membawa lampion kertas warna-warni.
Lek Salim adalah tukang reparasi sepeda andalan desa yang terkenal humoris. Malam itu, ia baru saja menyelesaikan tugas besar.
Ia berhasil memperbaiki rem sepeda ontel milik seorang santri cilik tepat waktu.
“Sudah beres, Tong! Remnya sekarang pakem banget,” ujar Lek Salim bangga.
“Wah, terima kasih, Lek! Biayanya berapa?” tanya si santri.
“Khusus menyambut Muharram, bayarnya pakai doa saja. Tapi doanya yang khusyuk ya, jangan sampai salah sebut nama Lek Salim jadi Lek Solikin!” candanya, membuat santri itu tertawa terbahak-bahak sambil menyalami tangannya.
“Lek Salim! Ayo ikut makan bubur Suro di serambi masjid!” panggil Kang Jono dari seberang jalan.
Lek Salim segera bergegas. Ia memakai baju koko putih terbaiknya.
Namun, karena terburu-buru dan kondisi rumahnya agak remang, ia salah menyambar sarung.
Bukannya memakai sarung motif samarinda miliknya, ia malah memakai sarung motif bunga-bunga besar kepunyaan istrinya.
Sepanjang jalan menyusuri desa, Lek Salim merasa heran. Kenapa semua warga yang berpapasan dengannya selalu tersendum geli.
Ia mengira wajahnya malam itu terlihat sangat tampan dan bercahaya karena berkah menyambut tahun baru.
Dengan percaya diri tingkat tinggi, ia membalas setiap senyuman warga dengan lambaian tangan layaknya kepala desa sedang pawai.
Sesampainya di serambi masjid, Kang Jono langsung membelalakkan mata.
“Lek, itu sarung baru atau pinjam punya Bu Salim? Anggun sekali motif mawar merahnya!” ledek Kang Jono sambil menahan tawa.
Lek Salim langsung melihat ke bawah. Wajahnya seketika memerah menyadari ia memakai sarung bermotif bunga-bunga mencolok.
Namun, dasar Lek Salim orangnya tidak kehabisan akal. Alih-alih malu, ia justru berpose centil di depan warga.
“Lho, Kang Jono ini kurang update tren mode terkini! Ini namanya taktik Muharram Ceria.
Biar tahun baru kita penuh dengan bunga-bunga kebahagiaan!” serunya bersilat lidah.
Seluruh serambi masjid pun langsung pecah oleh tawa warga.
Suasana berganti khidmat saat doa bersama dimulai.
Di penghujung acara, hidangan bubur Suro yang gurih pun disajikan di atas daun pisang.
Namun, kehebohan sejati malam itu justru baru dimulai saat doa penutup tahun selesai dibacakan.
Tepat ketika warga bersiap menyantap bubur, lampu masjid tiba-tiba padam total akibat korsleting.
Suasana menjadi gelap gulita dan riuh oleh kepanikan warga.
Di tengah kegelapan, terdengar suara lantang Lek Salim.
“Tenang warga Ringinarum! Kegelapan ini adalah ujian kesabaran pertama kita di tahun baru!” seru Lek Salim.
Tak lama kemudian, sebuah cahaya terang benderang muncul dari arah pintu masjid. Warga terkesima melihat Lek Salim berdiri di sana memegang lampion berbentuk sepeda raksasa yang menyala terang.
Ternyata, ia sudah menyiapkan lampion raksasa itu berhari-hari di bengkelnya sebagai kejutan.
“Wah, untung ada lampion sepedanya Lek Salim!” puji Pak RT lega.
Berkat cahaya lampion raksasa tersebut, suasana masjid kembali terang benderang dengan nuansa warna-warni yang estetik.
Warga akhirnya bisa menikmati bubur Suro dengan penuh suka cita, saling bercengkerama, dan berfoto bersama di dekat lampion buatan Lek Salim.
Malam itu ditutup dengan tawa bahagia seluruh warga desa.
Lek Salim sukses menyelamatkan acara akhir tahun dengan kreativitasnya, sekaligus membuktikan bahwa tahun baru Hijriah harus disambut dengan hati yang terang dan penuh keceriaan.
Gading, 27 Muharram 1448 H
