PURIN, KENDALMU.OR.ID – . Irama musik tidak hanya hadir di ruang seni, tetapi juga diterapkan sebagai dasar pengelolaan pendidikan formal, seperti yang dilakukan oleh Kepala SD Muhammadiyah Purin, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Akhmad Sofi Irwanto.
Ia melakuan pendekatan manajemen sekolah berbasis filosofi musik untuk membangun harmoni, disiplin, dan kerja kolektif di lingkungan sekolah. Irwanto menegaskan bahwa musik memiliki nilai pendidikan yang kuat dan relevan dengan praktik kepemimpinan.
Menurutnya, musik bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pembentukan karakter dan cara berpikir.
“Musik bagi saya adalah media ekspresi dan refleksi. Di dalamnya terdapat pembentukan karakter, kedisiplinan, kepekaan rasa, serta kemampuan untuk bekerja secara selaras,” ujarnya, Sabtu (3/1/2026).
Irwanto mengungkapkan, ia suka musik sejak usia dini, meski ia berasal dari keluarga tanpa latar belakang seni. Minat tersebut berawal dari kegemarannya mengikuti pencak silat dan mengekspresikan ritme menggunakan alat-alat dapur di rumah.
Saat menempuh pendidikan di pesantren selama tiga tahun, ketertarikan itu justru semakin berkembang. “Orang tua sempat mengira kebiasaan saya kotekan pakai alat dapur bakal berhenti begitu mondok.

Ternyata salah besar. Justru di pesantren saya makin keranjingan musik. Setiap libur Jumat, saya malah latihan ke studio bareng teman-teman,” katanya.
Setelah lulus dari MTs, Irwanto sempat bercita-cita melanjutkan pendidikan musik di Yogyakarta, namun keinginan tersebut tidak mendapat restu orang tua.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kendal dan tetap aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler musik.
Bersama sejumlah rekan, ia membentuk band Sagitarius dan meraih berbagai prestasi dalam festival musik tingkat sekolah hingga regional.
Ketertarikannya pada dunia musik terus berlanjut saat menempuh pendidikan di IAIN Walisongo Semarang.
Ia aktif dalam grup band Simbian dan mengikuti berbagai lomba musikalisasi puisi. Irwanto mengakui capaian akademiknya tergolong biasa, namun aktivitas seni membuat namanya cukup dikenal.
“Secara akademik nilai saya biasa saja. Tapi kalau urusan musik, nama saya dikenal. Kuliah saya sebenarnya musik, Bahasa Inggris itu bonus,” ujarnya.
Meski demikian, nilai terbaik justru ia peroleh pada mata kuliah Bahasa Inggris yang berkaitan dengan seni, seperti song, poetry, dan drama.
Dalam praktik kepemimpinan di sekolah, Irwanto menerapkan konsep manajemen berbasis irama.

Ia memandang sekolah layaknya sebuah orkestra yang harus dikelola secara selaras.
“Irama dalam manajemen adalah simbol sinkronisasi, fleksibilitas, dan koordinasi. Kepala sekolah itu seperti dirigen yang mengatur tempo agar seluruh unsur bergerak harmonis, kreatif, dan produktif,” tegasnya.
Irwan mengakui penerapan konsep tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan, mulai dari pola pikir konservatif, keterbatasan sumber daya, perbedaan kapasitas tim, hingga resistensi terhadap perubahan.
Meski demikian, dampaknya dinilai nyata. Setiap tahun ajaran, sekolah mampu meraih sedikitnya 100 prestasi akademik dan nonakademik. Jumlah peserta didik juga meningkat dari 401 siswa pada 2021 menjadi 510 siswa saat ini. Untuk tahun ajaran 2026–2027, tercatat 77 calon siswa telah mendaftar dari target 112.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kendal, Inu Indarto, mengapresiasi pendekatan kepemimpinan yang diterapkan Irwanto.
Menurutnya, integrasi seni dalam manajemen pendidikan merupakan praktik kepemimpinan yang visioner.
“Apa yang dilakukan Pak Irwanto menunjukkan bahwa kepala sekolah harus memiliki filosofi berpikir yang hidup. Musik dijadikan nilai, bukan sekadar hobi. Ini contoh kepemimpinan yang reflektif, kreatif, dan berorientasi pada pembentukan karakter,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan SD Muhammadiyah Purin menjadi bukti bahwa kepemimpinan berbasis nilai dan budaya mampu mendorong kemajuan sekolah secara berkelanjutan.
“Ketika sekolah dikelola dengan harmoni, maka prestasi, kepercayaan publik, dan kualitas pendidikan akan tumbuh bersama,” pungkasnya. (fur)
