SUKOREJO.KENDALMU.OR.ID – Pimpinn Ranting Muhammadiyah (PRM) Tlangu, Kecamatan Sukorejo bersama Takmir Masjid Al Huda Tlangu, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, menggelar Kajian Spesial Akhir Tahun bertajuk Seri Keluarga Islami dan Muhasabah Akhir Tahun pada Rabu malam (31/12/2025) ba’da Maghrib.
Kegiatan ini diikuti oleh jamaah PRM Tlangu, PRA Tlangu beserta seluruh anggotanya, PRNA Tlangu dan anggotanya, PRPM Tlangu, serta jamaah Masjid Al Huda Tlangu. Kajian tersebut melibatkan partisipasi keluarga secara luas sebagai wujud penguatan nilai-nilai keislaman di lingkungan rumah tangga.
Kajian menghadirkan Ustadz Heri Setiawan, Direktur MBS Weleri, sebagai pemateri utama. Dalam tausiyahnya, Ustadz Heri menegaskan bahwa keluarga memiliki posisi yang sangat strategis dalam Islam, bukan sekadar sebagai unit sosial terkecil, tetapi sebagai pilar utama kehidupan dan fondasi peradaban.
Keluarga merupakan madrasah pertama bagi setiap manusia. Ketika keluarga dibangun di atas iman dan takwa, maka masyarakat dan bangsa akan berdiri kokoh. Sebaliknya, kerusakan dalam keluarga akan berdampak luas pada rusaknya tatanan sosial.
Momentum akhir tahun, menurutnya, menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah secara kolektif dalam lingkup keluarga, guna mengevaluasi perjalanan ibadah, peran, dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga.
Muhasabah sejatinya harus dilakukan setiap hari. Namun, akhir tahun menjadi pengingat agar keluarga berhenti sejenak, mengevaluasi diri, lalu memperbaiki arah kehidupan ke depan agar semakin dekat dengan nilai-nilai yang diridhai Allah.
Dalam perspektif Islam, keluarga merupakan titik awal pembentukan karakter manusia. Dari keluarga yang kuat akan lahir masyarakat yang sehat, dan dari masyarakat yang sehat akan terbentuk bangsa yang bermartabat. Al-Qur’an menegaskan tujuan luhur institusi keluarga sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang…”
Ayat tersebut menegaskan bahwa keluarga adalah ruang pertama hadirnya ketenangan (sakinah), kasih (mawaddah), dan sayang (rahmah), yang menjadi modal utama dalam membangun ketahanan moral dan spiritual umat.
Dalam tausiyahnya Ustadz Heri menekankan bahwa menjaga keluarga dari penyimpangan merupakan amanah bersama antara suami dan istri, bukan tanggung jawab sepihak.

“Suami dan istri memiliki tanggung jawab yang sama untuk saling mengingatkan, saling membimbing, dan menjaga keluarga agar tidak terjerumus pada perbuatan yang melanggar perintah Allah. Inilah esensi kepemimpinan dalam rumah tangga,” tegasnya.
Dalam Seri #1 Keluarga Islami Warga Muhammadiyah ini, Ustadz Heri juga menjelaskan bahwa setiap individu dapat berada pada beberapa posisi sekaligus dalam keluarga, yakni sebagai anak, pasangan (suami atau istri), dan orang tua. Seluruh peran tersebut bermuara pada satu tujuan besar, yaitu terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
Ayat ini menegaskan bahwa menjaga keluarga dari keburukan akhlak dan penyimpangan agama merupakan kewajiban setiap orang beriman. Keluarga tidak boleh menjadi sebab kelalaian, tetapi justru menjadi ruang saling menasihati dalam kebaikan, sebagaimana juga diingatkan dalam Surah At-Taghabun ayat 14.
“Dalam keluarga, setiap individu tidak hanya memiliki satu peran. Kita bisa menjadi anak, menjadi pasangan—suami atau istri—dan sekaligus menjadi orang tua,” ujarnya

“Setiap peran membawa amanah yang berbeda, tetapi semuanya bermuara pada satu tujuan besar, yaitu terwujudnya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah,” tambahnya.
Nilai-nilai tersebut menegaskan pentingnya keteladanan dalam keluarga. Pendidikan akhlak tidak hanya diajarkan melalui kata-kata, tetapi terutama melalui contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Rumah menjadi benteng pertama pembentukan karakter, dan orang tua menjadi teladan utama bagi anak-anaknya.
Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW:
“Tidak ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada pendidikan akhlak yang baik.”
(HR. Tirmidzi)
Melalui kajian dan muhasabah akhir tahun ini, jamaah diajak untuk kembali menata niat, memperkuat komunikasi dalam keluarga, serta membangun komitmen bersama agar keluarga benar-benar menjadi pilar kehidupan yang menebar kebaikan. Harapannya, dari keluarga-keluarga yang kuat akan lahir masyarakat yang berdaya dan bangsa yang bermartabat, menuju cita-cita Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur. (silo)
