SURAKARTA, KENDALMU.OR.ID – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Tengah melakukan kunjungan strategis ke SETARA Institute, Kamis (8/1).
Kunjungan ini dilakukan sebagai upaya memperkuat kapasitas riset dan mendorong peran mahasiswa sebagai produsen pengetahuan dalam merespons persoalan sosial dan kebangsaan.
Ketua Umum DPD IMM Jawa Tengah, Nia Nur Pratiwi, M.M., menegaskan bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh berhenti pada aktivitas organisatoris semata, tetapi harus melahirkan kontribusi nyata melalui riset yang kritis dan berkelanjutan.
“IMM tidak boleh terjebak dalam rutinitas organisasi. Riset kritis harus menjadi fondasi gerakan mahasiswa agar mampu memberi solusi atas persoalan sosial-kebangsaan,” tegas Nia di sela pertemuan di Surakarta.
Dalam diskusi tersebut, Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, M.A., menekankan pentingnya kemandirian organisasi masyarakat sipil dalam memproduksi pengetahuan. Menurutnya, riset menjadi instrumen strategis untuk mendorong perubahan kebijakan yang lebih berkeadilan.
“Produksi pengetahuan harus dilakukan secara independen dan akuntabel agar mampu memengaruhi kebijakan publik, termasuk dalam isu-isu hak asasi manusia,” ujar Halili.
Salah satu isu utama yang dibahas dalam pertemuan ini adalah Responsible Business Conduct (RBC) serta penerapan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dalam praktik bisnis. Diskusi tersebut merujuk pada standar internasional, seperti United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights, yang dinilai perlu terus didorong implementasinya di tingkat nasional.
Selain itu, pertemuan juga membahas metodologi pengembangan indeks, termasuk gagasan penyusunan Indeks Kota Islami. Nia menilai, metodologi riset harus dirancang secara kuat dan sensitif terhadap keberagaman sosial serta demografi masyarakat.
“Jawa Tengah memiliki karakter wilayah yang sangat beragam, dari pesisir hingga pegunungan. Ini menjadi laboratorium riset yang strategis bagi pengembangan indeks dan kajian kebijakan,” katanya.
Kunjungan tersebut ditutup dengan komitmen bersama untuk mengelola manajemen pengetahuan secara terbuka. Ke depan, setiap produk intelektual IMM akan dipetakan berdasarkan respons publik sebagai bagian dari proses dialektika dan pengembangan ilmu pengetahuan.
