KENDAL, KENDALMU.OR.ID – Pesan menjaga bumi tak lagi sekadar wacana. Dari panggung seni, ratusan siswa SD Muhammadiyah Purin (Esmurin), Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, menyuarakannya lantang lewat Gelar Prestasi ke-24 bertema “Mahayu Hayuning Bawono” di Pendopo Kendal, Sabtu (25/4/2026).
Ajang tahunan ini tampil lebih dari sekadar hiburan. Lewat drama yang dibawakan siswa kelas I hingga VI, isu lingkungan diolah menjadi cerita yang menyentuh—tentang alam yang terluka, manusia yang abai, hingga harapan akan kehidupan yang kembali selaras.

Kegiatan dibagi dua sesi: pagi untuk kelas I–III, dan siang selepas salat Zuhur untuk kelas IV–VI. Setiap penampilan membawa pesan kuat—bahwa menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan kewajiban.
Kepala SD Muhammadiyah Purin, Akhmad Irwanto, menegaskan bahwa panggung ini adalah ruang belajar yang hidup.

“Ini bukan sekadar pentas seni. Ini cara kami menanamkan nilai. Anak-anak belajar bahwa mencintai alam harus dimulai dari diri sendiri, sejak sekarang,” tegasnya.

Menurutnya, pendekatan melalui seni jauh lebih efektif menyentuh kesadaran anak.
“Kalau hanya teori di kelas, mudah lupa. Tapi ketika mereka memerankan, merasakan, dan menyampaikan pesan itu sendiri, nilai itu akan tinggal lebih lama,” imbuhnya.

Irwanto juga mengungkapkan perkembangan positif sekolah. Tahun ini, jumlah siswa mencapai 513 anak dalam 20 rombongan belajar.
“Target tahun ajaran 2026 empat kelas dengan 112 siswa. Saat ini sudah 102 siswa baru mendaftar. Ini amanah yang harus kami jaga dengan kualitas,” katanya.

Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan Kecamatan Patebon, Priyo Sujatmiko, menilai kegiatan ini menjadi indikator kepercayaan publik.
“Ketika sekolah konsisten membangun karakter dan kreativitas, masyarakat melihat dan percaya. Itu terbukti dari jumlah siswa yang terus meningkat,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Ketua Majelis Dikdasmen PNF PCM Purin, Langgeng Budiharso.
“Ini contoh pendidikan yang utuh. Anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga punya kepedulian dan nilai. Seni menjadi jembatan untuk membangun karakter,” tegasnya.
Dari panggung kecil di Pendopo Kendal, suara besar itu menggema: bumi tidak butuh manusia yang pintar saja, tetapi manusia yang peduli. Anak-anak Esmurin telah memulai. Kini, giliran orang dewasa untuk tidak sekadar menonton—melainkan ikut menjaga. (fur)
