NGAMPEL, KENDALMU.OR.ID. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngampel menggelar Pengajian Ahad Pagi di Aula Kecamatan Ngampel, Ahad (5/4/2026).
Kegiatan yang diikuti anggota PCM serta pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) ini mengangkat tema “Bersihkan Hati dan Perkuat Silaturahmi”.
Pengajian menghadirkan Ketua Majelis Tabligh PCM Ngampel, Ustadz Adi Ismanto, sebagai penceramah.
Dalam kajiannya, ia menekankan pentingnya momentum pasca-Idulfitri untuk memperkuat hubungan antarsesama sekaligus membersihkan hati dari berbagai penyakit batin.

Menurutnya, tradisi halal bihalal yang berkembang di masyarakat Indonesia merupakan sarana positif untuk mempererat silaturahmi dan menyelesaikan persoalan di antara sesama.
Secara bahasa, kata halal berasal dari yaḥillu yang berarti mengurai atau menyelesaikan sesuatu yang kusut, sehingga halal bihalal dimaknai sebagai upaya menyelesaikan persoalan agar tidak ada lagi konflik.
“Halal bihalal menjadi momentum untuk saling memaafkan dan memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang,” ujar Adi.
Ia menjelaskan, tradisi halal bihalal memang tidak secara langsung diperintahkan dalam hadits Nabi, namun merupakan budaya baik yang berkembang di Indonesia.
Dalam ajaran Islam, para sahabat ketika Idulfitri saling mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkum” yang berarti semoga Allah menerima amal ibadah kita.
Ucapan tersebut, lanjutnya, disetujui oleh Nabi Muhammad SAW sehingga menjadi hadits taqririyah yang menunjukkan bahwa tradisi saling mendoakan pada hari raya merupakan amalan yang baik.
Meski demikian, nilai saling memaafkan memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surat Ali Imran ayat 133–134 yang menganjurkan umat Islam untuk berinfak, menahan amarah, dan memberi maaf kepada sesama.
“Karena mengandung nilai kebaikan, Muhammadiyah melalui tarjih membolehkan pelaksanaan halal bihalal sebagai bagian dari tradisi yang positif,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Adi juga mengingatkan agar umat Islam tidak menunda-nunda meminta maaf ketika melakukan kesalahan kepada orang lain.
“Maaf-maafan jangan menunggu Idulfitri atau halal bihalal. Jika ada kesalahan, sebaiknya segera meminta maaf,” tegasnya.
Ia menambahkan, dosa kepada Allah SWT dapat diampuni melalui taubat nasuha. Namun, kesalahan kepada sesama manusia harus diselesaikan dengan saling memaafkan.
Jika tidak, penyelesaiannya di akhirat dapat berupa pengalihan pahala atau penambahan dosa yang merugikan seseorang.
Selain itu, ia mengingatkan jamaah untuk membersihkan hati dari penyakit seperti riya, marah, dan sombong yang dapat menghalangi seseorang dari ampunan Allah SWT.
Adi juga meluruskan pemahaman masyarakat terkait ucapan saat Idulfitri.
Menurutnya, ungkapan minal aidzin sering kali digunakan sebagai permintaan maaf, padahal secara makna berarti kembali ke fitrah, sehingga perlu dilengkapi jika ingin menyampaikan permohonan maaf.
Melalui pengajian ini, PCM Ngampel berharap jamaah dapat menjadikan bulan Syawal sebagai momentum untuk memperbaiki diri, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kualitas ibadah setelah Ramadan. (rio)
