WELERI, KENDALMU.OR.ID – Film dokumenter Untold Story merekam perjalanan panjang, sunyi, dan penuh pengabdian dalam proses berdirinya Rumah Sakit Islam (RSI) Kendal, dari gagasan awal hingga tumbuh sebagai rumah sakit yang konsisten mengedepankan nilai kemanusiaan dan dakwah Islam.
Film tersebut diluncurkan bersamaan dengan buku The Untold Story: Sejarah RSI Kendal melalui acara nonton bareng di Auditorium Prof. KH. Azhar Basyir, MA, Kompleks RSI Kendal, Sabtu (31/1/2026).
Film ini tidak sekadar menampilkan dokumentasi institusi kesehatan, tetapi mengungkap sisi sejarah yang jarang disorot, mulai dari keberanian menerima amanah, kesabaran membangun di tengah keterbatasan, hingga keteguhan menjaga nilai Islam dalam pelayanan kesehatan.

Untold Story menegaskan bahwa RSI Kendal lahir dari semangat pengabdian, bukan kepentingan bisnis.
Sejarah RSI Kendal bermula pada masa pra-1993 dengan berdirinya Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) yang dihimpun oleh sembilan unsur organisasi kemasyarakatan Islam, termasuk Muhammadiyah.
YARSI dibentuk dengan cita-cita menghadirkan layanan kesehatan yang mempersatukan umat Islam. Namun, dalam perjalanannya, yayasan tersebut mengalami kevakuman.
Pada fase krusial, Bupati Kendal saat itu, Soemojo Hadiwinoto, selaku pembina panitia pendirian rumah sakit, menawarkan kelanjutan pengelolaan kepada Muhammadiyah setelah unsur ormas lain menyatakan tidak sanggup melanjutkan.
Tawaran tersebut disambut Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal dengan syarat pengelolaan rumah sakit sepenuhnya berada di bawah Muhammadiyah. Keputusan ini menjadi tonggak berdirinya RSI Muhammadiyah Kendal.

Pembangunan RSI Muhammadiyah Kendal resmi dimulai pada 1993 dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Dukungan warga Muhammadiyah menjadi kekuatan utama dalam menggerakkan rumah sakit sebagai amal usaha yang berorientasi pada pelayanan dan dakwah.
Seiring waktu, RSI Kendal terus berkembang melalui peningkatan layanan dan profesionalisme, tanpa meninggalkan nilai dasar pengabdian.
Ketua PDM Kendal, KH. Ikhsan Intizaam, menegaskan bahwa RSI Muhammadiyah Kendal sejak awal tidak dibangun dengan orientasi profit.
“RSI Muhammadiyah Kendal dibangun sebagai ladang pengabdian. Orientasinya pelayanan dan kemanusiaan. Keuntungan hanyalah sarana agar pelayanan tetap berjalan,” tegasnya.
Ikhsan menegaskan, sesuatu yang dibangun di atas landasan takwa dan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan jauh lebih kokoh dan berumur panjang dibandingkan bangunan yang lahir dari kedengkian, kebencian, dan keserakahan.
Ia mengingatkan seluruh jajaran RSI Muhammadiyah Kendal agar menjaga sikap dalam mengemban amanah.
“Bangga itu wajar, tetapi jangan pernah sombong. RSI ini harus tetap berdiri sebagai ladang pengabdian, bukan tempat meninggikan diri,” tegasnya.

Film Untold Story disajikan secara sederhana dan jujur melalui arsip foto lama, dokumentasi visual, serta kesaksian para perintis, dokter, dan tenaga kesehatan.
Salah satu saksi sejarah, Sulis Mardiyono, mengaku terharu menyaksikan film tersebut.
“Menyaksikan film ini membuat saya meneteskan air mata, karena keikhlasan dan kegigihan para pendiri,” ujarnya.
Peluncuran film dan buku ini dihadiri Bendahara Umum PP Muhammadiyah Prof. Hilman Latief, Ketua MPKU PP Muhammadiyah, Agus Samsudin, Ketua MPKU PWM Jawa Tengah, Ibnu Nasir, jajaran PDM Kendal, ortom, para perintis, serta karyawan awal RSI Kendal.
Film dokumenter Untold Story digarap oleh tim Kultumsinema dengan pendekatan sederhana dan jujur.
Buku The Untold Story: Sejarah RSI Kendal ditulis oleh Bagas Chairil Anwar, sementara film disutradarai oleh Sani Al-Kindi.
Proses produksi film ini melibatkan Kultumsinema Creator Media sebagai produser sekaligus penerbit buku, dengan Rifki Khoirul Anam sebagai editor.
Karena berbentuk film dokumenter, Untold Story tidak menampilkan pemeran utama. Seluruh proses visual dan narasi ditopang oleh kesaksian para perintis, tenaga kesehatan, serta dokumentasi sejarah yang autentik.
Adapun pemain dan kru dalam film dokumenter ini merupakan seluruh tim kreatif dari Kuktumsinema yang terlibat secara kolektif dalam produksi. (fur)
