BOJA, KENDALMU.OR.ID – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Wahyudi, mengingatkan pentingnya sikap adil bagi seorang pemimpin, termasuk kepala sekolah.
Menurutnya, menjadi pemimpin yang adil memang tidak mudah, tetapi Allah menjanjikan balasan yang sangat besar.
“Dalam sebuah hadis disebutkan, pemimpin yang adil dalam satu hari saja lebih utama daripada ibadah selama 60 tahun,” tegas Wahyudi saat memberikan pembinaan kepada dua kepala sekolah yang baru dilantik, yakni Wahyu Firgiyanto (Kepala SMP Muhammadiyah 2 Boja) dan Buwana Fatoni (Kepala SMA Muhammadiyah 2 Boja) serta seluruh guru dan karyawan kedua sekolah tersebut, Selasa (26/8/2025) di SMK Muhammadiyah 2 Boja, Kendal.
Wahyudi menjelaskan, adil berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya, proporsional sesuai porsi dan tanggung jawab. Karena itu, gaji guru, karyawan, dan kepala sekolah tentu berbeda, bergantung pada posisi dan kerja keras masing-masing.
“Kepala sekolah yang berlaku adil insya Allah pahalanya banyak,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Wahyudi menyoroti perkembangan sekolah Muhammadiyah. Ia memahami jumlah siswa SMA Muhammadiyah lebih banyak dibanding SMK, namun hal itu justru menjadi tantangan agar SMA Muhammadiyah semakin menarik minat masyarakat.
Menurutnya, sekolah Muhammadiyah harus memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan sekolah lain, yakni pada penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.
“Yang jadi pertanyaan, apakah ciri khusus Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sudah benar-benar dilaksanakan dengan sungguh-sungguh atau hanya sebatas formalitas? Jika pelaksanaannya (Al Islam) sama dengan mata pelajaran agama di sekolah umum, berarti sekolah Muhammadiyah belum memiliki keunikan,” ujarnya.
Wahyudi menekankan, kepala sekolah perlu banyak berdoa dan memohon ampun kepada Allah agar sekolah Muhammadiyah dianugerahi keunikan yang dibutuhkan masyarakat.
Keunikan itu, lanjutnya, tidak bisa lahir dari pemikiran kepala sekolah seorang diri, tetapi harus dibangun bersama guru, karyawan, majelis, PCM, hingga masyarakat.

“Kepala sekolah jangan seperti bakul mie ayam atau soto yang semua dikerjakan sendiri. Kepala sekolah punya banyak teman, mulai dari guru, PCM, majelis, hingga masyarakat. Ajak diskusi, elaborasi, sehingga lahirlah karakteristik yang benar-benar dicari masyarakat,” pesannya.
Untuk memotivasi, Wahyudi menyinggung kisah Napoleon Bonaparte. Meski bertubuh sedang (1,68 meter) dan pernah ditolak cintanya oleh Joséphine de Beauharnais, Napoleon tetap bersemangat hingga akhirnya menjadi jenderal muda paling cemerlang dalam sejarah Prancis.
“Semangat adalah setengah dari keberhasilan. Kepala sekolah Muhammadiyah harus berani menunjukkan jati diri, punya banyak teman, tidak minder, dan tidak mudah diinjak-injak,” ungkapnya.
Pelantikan dua kepala sekolah Muhammadiyah Boja berlangsung khidmat, dipimpin langsung oleh Ketua PDM Kendal, KH. Ikhsan Intizam.
Hadir dalam acara tersebut jajaran PCM Boja, Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Boja, Ketua dan Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kendal, Inu Indarto dan Sugiri, Kepala SMK Muhammadiyah 2 Boja, Nur Khirin, serta seluruh guru dan karyawan kedua sekolah. (fur)
