PURIN, KENDALMU.OR.ID — Jamaah sejak pagi buta memadati halaman SD Muhammadiyah Purin untuk mengikuti kajian subuh spesial bertajuk “Larangan Memutus Silaturahmi”, Ahad (5/10/2025). Cuaca cerah kian menambah khidmat suasana kajian yang dipimpin oleh Ustaz Maqfiudin.
Hadir dalam kajian tersebut ratusan jamaah, mulai dari kepala sekolah, dewan guru, wali murid, hingga masyarakat umum.
Pemilihan halaman sekolah sebagai lokasi kegiatan memberikan nuansa kebersamaan sekaligus simbol penanaman nilai ukhuwah Islamiyah sejak dini di lingkungan pendidikan.
Dalam ceramahnya, Ustaz Maqfiudun menegaskan bahwa memutus silaturahmi bukan sekadar persoalan sosial, melainkan dosa besar yang mendapat ancaman langsung dalam ajaran Islam.
“Rasulullah telah mengingatkan, orang yang memutuskan tali persaudaraan tidak akan masuk surga. Ini menunjukkan bahwa masalah ini adalah pintu utama hilangnya rahmat Allah dalam hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat,” tegasnya.
Menurut beliau, akar perpecahan sering muncul karena hilangnya husnudzon atau prasangka baik.
“Bagaimana mungkin kita menyambung jika hati kita penuh curiga? Kunci pertama adalah mengosongkan hati dari prasangka buruk, lalu meyakini bahwa setiap kerabat berhak mendapat maaf,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ustaz Maafiyun menyoroti tiga pilar utama dalam menjaga silaturahmi, yakni berbakti kepada orang tua dan keluarga inti.
“Jangan biarkan perbedaan pendapat memutus doa kita untuk mereka. Berbakti adalah investasi abadi,” katanya.
Yang ke dua kata sang Ustadz, kasih sayang kepada anak yatim, karena mereka adalah harta di akhirat
“Mereka adalah harta kita di akhirat. Sentuhan kasih sayang kita kepada mereka menjadi bukti ketulusan amal,” jelasnya.
Dan yang ketiga, lanjutnya kebaikan untuk masyarakat luas, lantaran masyarakat adalah ladang untuk berbuat baik karena Allah.
“Sayangi siapa pun di sekitarmu, berbuatlah baik karena Allah, bukan karena berharap balasan dari manusia,” tambahnya.
Sebagai penutup, Ustaz Maafiyun mengingatkan jamaah agar tidak menunda-nunda memperbaiki hubungan yang terputus.
“Tantangannya adalah ikhlas. Telepon mereka, kirim hadiah kecil, atau setidaknya doakan dalam salat. Lakukan meski balasannya pahit. Inilah jihad kita dalam menyambung silaturahmi,” tuturnya penuh penekanan.
Kajian Ahad pagi sebagai momentum untuk komitmen jamaah dalam rangka memperbaiki dan menjaga ukhuwah demi meraih keberkahan hidup. (rani)
Kontributor : Landriana Nurmalita Maharani
