WELERI, KENDAL MU.OR.ID – Prestasi membanggakan ditorehkan seorang remaja asal Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal. Bagus Satrio Aji (15), siswa kelas IX MTs Muhammadiyah 1 Weleri, berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an setelah melalui proses panjang sejak usia dini.
Keberhasilan itu tidak lepas dari peran orang tuanya, terutama sang ibu, Wahyu Eko Setyowati, yang sejak kecil menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Bahkan sebelum genap berusia enam tahun, Bagus yang tinggal di Weleri RT 01/RW 07 sudah diserahkan orang tuanya untuk menimba ilmu sebagai santri di Pondok Pesantren Darussalam Caruban, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal.
Di pesantren tersebut perjalanan Bagus dalam mengenal Al-Qur’an dimulai. Saat duduk di kelas 1 SDN 2 Ngawensari, ia belajar membaca Al-Qur’an melalui metode Iqra’ sebagai dasar awal sebelum memasuki tahap hafalan.
“Sebelum menghafal Al-Qur’an wajib belajar Iqra’ sebagai dasar,” ujar Bagus, Sabtu (7/3/2026).
Melalui metode itu, anak belajar mengenal huruf-huruf Al-Qur’an dari alif hingga ya, termasuk bentuk huruf saat berdiri sendiri maupun ketika bersambung.
Metode tersebut disusun secara bertahap, mulai dari tingkat paling mudah hingga yang lebih kompleks.
Setelah sekitar satu tahun mempelajari Iqra’, Bagus mulai menghafal surat-surat pendek di juz ke-30.
Pada tahap awal ia sempat mengalami kesulitan dan bahkan merasa ragu untuk melanjutkan hafalan.
“Di juz ini saya belum bisa lancar sehingga sempat ragu untuk melanjutkan hafalan. Tetapi setelah ustadzah Nisa’ membimbing dengan sabar, saya kembali semangat,” katanya.
Perjalanan hafalan Bagus berlangsung secara bertahap sejak sekolah dasar.
Saat kelas 1 SD ia telah menghafal dua juz, kemudian bertambah menjadi tiga juz di kelas 2, empat juz di kelas 3, dan mencapai 13 juz ketika kelas 5. Saat lulus SD, hafalannya telah mencapai 16 juz.
Untuk memperkuat hafalannya, anak pertama dari pasangan Triyono dan Wahyu Eko Setyowati itu kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Muhammadiyah 1 Weleri yang dikenal memiliki basis pendidikan agama kuat.
Selama menempuh pendidikan di madrasah tersebut, hafalan Bagus terus bertambah. Saat kelas VII ia telah menghafal 19 juz, kemudian meningkat menjadi 24 juz di kelas VIII. Pada semester ganjil tahun ajaran 2026–2027, ia akhirnya menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an.
Hafalan tersebut kemudian diuji secara internal oleh ustadz Husein dan ustadzah Nisa’, yang menyatakan Bagus lulus dengan predikat Tahfidz Muda.
Bagus mengakui, tantangan terbesar dalam menghafal Al-Qur’an bukan sekadar menambah hafalan, tetapi menjaga agar hafalan tetap kuat dan tidak mudah hilang.
“Kesulitan yang sering dialami penghafal biasanya ketika menemukan ayat yang mirip tetapi berada di surat berbeda. Seorang hafidz harus mampu membedakannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, seorang penghafal Al-Qur’an juga harus disiplin melakukan murajaah atau mengulang hafalan, menjaga tajwid dan makhraj, serta mampu mengendalikan diri dari berbagai hal yang dapat mengganggu konsentrasi.
“Kesulitan terbesar penghafal Al-Qur’an bukan pada menambah hafalan, tetapi menjaga hafalan tetap kuat dan konsisten sepanjang waktu,” tegas Bagus.
Atas prestasi tersebut, Bagus dijadwalkan berangkat menunaikan ibadah umrah ke Makkah Al-Mukarramah bersama kedua orang tuanya dalam waktu dekat.
Perjalanan tersebut merupakan hadiah dari seorang pengusaha di Jakarta sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilannya menghafal Al-Qur’an.
Kepala MTs Muhammadiyah 1 Weleri, Sugiarto, menyampaikan apresiasi atas capaian siswanya tersebut.
“Ini kebanggaan besar bagi madrasah kami. Prestasi Bagus membuktikan bahwa dengan disiplin, ketekunan, dan bimbingan yang tepat, siswa mampu meraih prestasi luar biasa,” tegasnya. (fur)
