KENDAL.KENDALMU.OR.ID. Menyambut tahun ajaran baru 2025–2026, SMP Muhammadiyah 6 (Muhnam) Kendal menggelar kegiatan In House Training (IHT), sebuah pelatihan internal yang dirancang untuk memperkuat kompetensi guru secara profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian.
Kegiatan ini berlangsung pada Senin (7/7/2025) di aula SMP Muhammadiyah 6 Kendal dan diikuti 30 peserta dari lintas satuan pendidikan Muhammadiyah di Kendal.
Selain guru dari SMP Muh 6, hadir pula perwakilan guru dari SMA Muhammadiyah 4 Kendal, SD Muhammadiyah Purin, SD Muhammadiyah Pegandon, dan SD Muhammadiyah Taruna.
Atmosfer pelatihan terasa hidup dan bersinergi, sejalan dengan semangat berkolaborasi dalam membangun pendidikan Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan.

Kepala SMP Muhammadiyah 6 Kendal, Dian Rachmawati, menyampaikan bahwa IHT merupakan sarana penting bagi guru-guru Muhammadiyah untuk meningkatkan kualitas secara berkelanjutan dan kontekstual.
“IHT memiliki dimensi lebih luas dari sekadar pelatihan teknis. Selain untuk peningkatan kompetensi, IHT juga diarahkan pada penguatan ideologi Islam berkemajuan, integrasi kurikulum nasional dan kurikulum Muhammadiyah, serta penyiapan guru sebagai pendidik dan teladan moral,” terang Dian.
Menurutnya, IHT tahun ini menyoroti pentingnya pemahaman terhadap pendekatan kurikulum baru dari Kementerian Pendidikan, yakni deep learning atau pembelajaran mendalam, sebagai strategi dalam menciptakan proses belajar yang bermakna dan reflektif.
Menariknya, kegiatan ini menghadirkan narasumber yang telah lulus Training of Trainer (ToT) dari Kementerian Pendidikan Nasional dan memiliki latar belakang kuat dalam pengembangan pendidikan berbasis nilai Muhammadiyah.
Fasilitator IHT, Nur Khirin, dalam pemaparannya menekankan bahwa pelatihan ini berfokus pada pengembangan kapasitas guru Muhammadiyah, baik secara profesional maupun ideologis.
Materi yang dibawakan meliputi pengembangan modul ajar Kurikulum Merdeka, pembelajaran berdiferensiasi, hingga penguatan nilai-nilai ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab) dalam keseharian.

“IHT ini bukan sekadar program, melainkan bagian dari jihad intelektual guru Muhammadiyah. Setiap guru harus memahami visi dan misi pendidikan Muhammadiyah, termasuk nilai Islam Berkemajuan dan peran guru sebagai agen perubahan,” tegasnya.
Sebagai penutup, Nur Khirin menyampaikan harapannya agar seluruh peserta tidak berhenti belajar setelah pelatihan ini usai.
“Jadikan IHT ini sebagai awal, bukan akhir. Karena guru yang hebat bukan yang paling tahu, tetapi yang paling mau belajar. Ilmu yang tidak diamalkan hanya akan tinggal di kertas,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar guru Muhammadiyah menjadi pendidik yang mencerahkan dan membimbing dengan hati.
“Kita bukan hanya pengajar ilmu, tapi penanam nilai. Jadilah suluh yang menerangi jalan siswa, bukan sekadar lilin yang perlahan habis oleh waktu.”
Dengan semangat ta’awun dan kolaborasi, IHT ini diharapkan menjadi titik awal bagi guru-guru Muhammadiyah untuk terus melayani dengan memuliakan siswa, sekolah, dan orang tua. Melalui pembelajaran bermakna dan menyenangkan, mereka bukan hanya mendidik, tapi juga mencetak generasi pencerah bagi masa depan umat dan bangsa. (fur)
