KENDAL, KENDALMU.OR.ID . Wakil Bupati Kendal, Beny Karnadi menegaskan bahwa lonjakan investasi besar yang terjadi di Kabupaten Kendal sepanjang periode 2020–2025 belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara merata dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Beny Karnadi dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2025 Pemuda Muhammadiyah Kenda, Selasa Malam (23/12/2025) di Water Six Weleri, Kabupaten Kendal.
Ia mengungkapkan, Kendal mengalami peningkatan investasi yang sangat signifikan, terutama didorong oleh industrialisasi skala besar di Kawasan Industri Kendal (KIK).
“Secara angka, investasi Kendal melonjak tajam. Namun di sisi lain, muncul anomali sosial, ekonomi, dan ekologis yang harus menjadi perhatian serius pemerintah,” tegas Beny.
Data menunjukkan nilai investasi Kendal meningkat dari Rp3,4 triliun pada 2020, menjadi Rp4,47 triliun pada 2021, Rp5,19 triliun pada 2022 dan 2023, melonjak ke Rp6,39 triliun pada 2024, dan pada Triwulan III 2025 telah mencapai Rp9,45 triliun.
Bahkan pada 2024, realisasi investasi tercatat melonjak hingga 122 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut mengukuhkan Kendal sebagai magnet investasi, termasuk menjadi kabupaten dengan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) tertinggi di Jawa Tengah pada 2023 senilai Rp4,81 triliun.
Pertumbuhan ekonomi Kendal pun mencatatkan angka tertinggi di Jawa Tengah, yakni 8,84 persen pada Triwulan III 2025, melampaui provinsi dan nasional. Namun, Beny menyoroti paradoks pasar tenaga kerja. Di tengah lonjakan investasi, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) justru menurun dari 76,93 persen pada 2023 menjadi 76,85 persen pada 2024.
“Penurunan TPAK ini menunjukkan sebagian penduduk usia kerja justru keluar dari pasar kerja. Ini sinyal adanya persoalan struktural,” ujarnya.
Ia menjelaskan, industri modern yang masuk belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja lokal akibat ketidaksesuaian keterampilan.
Struktur angkatan kerja Kendal masih didominasi lulusan SD sebesar 35,12 persen, sementara pengangguran justru terkonsentrasi pada kelompok terdidik. Data 2024 menunjukkan 64,14 persen pengangguran laki-laki berasal dari lulusan SMA/SMK dan perguruan tinggi.
“Kurikulum pendidikan lokal belum sepenuhnya nyambung dengan kebutuhan industri,” tegas Beny.
Tekanan kesejahteraan juga tercermin dari pola konsumsi masyarakat. Pada 2024, porsi pengeluaran untuk makanan kembali mendominasi hingga 54,20 persen dari total pengeluaran.
“Ini menandakan biaya hidup dasar meningkat lebih cepat daripada pendapatan masyarakat,” katanya.
Dari sisi lingkungan, Beny mengungkapkan konversi lahan pertanian dan tambak secara masif telah menimbulkan dampak ekologis serius. Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTL) turun drastis dari 72,05 pada 2020 menjadi 39,68 pada 2024, disertai peningkatan suhu permukaan dan ancaman penurunan muka tanah di sekitar kawasan industri.
Menutup refleksinya, Beny menegaskan perlunya mengkalibrasi ulang arah pembangunan Kendal.
“Investasi tidak boleh hanya menjadi angka statistik. Investasi harus menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara adil dan berkelanjutan,” pungkasnya. (fur)
