KENDAL,KENDALMU.OR.ID – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menutup tahun 2025 dengan sebuah refleksi kebangsaan bertema “Bangkit Bersama untuk Indonesia”.
Melalui refleksi tersebut, Haedar mengajak seluruh elemen bangsa, baik masyarakat maupun para elite, untuk memperkuat persatuan, ketangguhan, serta semangat kebersamaan di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang kian kompleks dan penuh tantangan.
Menurut Haedar, sepanjang 2025 bangsa Indonesia dihadapkan pada berbagai persoalan sosial dan kemanusiaan, termasuk dampak bencana besar di sejumlah wilayah. Situasi tersebut menuntut hadirnya empati, kesabaran, dan solidaritas sebagai fondasi sikap bersama.

“Bangsa ini sedang diuji oleh beragam dinamika sosial dan kemanusiaan. Karena itu, kita membutuhkan empati, kesabaran, dan kebersamaan sebagai kekuatan moral untuk saling menguatkan,” ujar Haedar dalam refleksi akhir tahunnya Rabu (31/12/2025)
Ia menegaskan bahwa pergantian tahun seharusnya tidak dimaknai sebatas perayaan seremonial, melainkan momentum untuk melakukan muhasabah atau introspeksi secara spiritual dan intelektual terhadap perjalanan bangsa.
“Refleksi akhir tahun hendaknya menjadi ruang muhasabah, agar kita tidak sekadar larut dalam euforia pergantian waktu, tetapi mampu membaca makna dan pelajaran dari perjalanan bangsa ini,” katanya.

Haedar juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pijakan nyata dalam kehidupan bersama.
Menurutnya, perbedaan pandangan tidak boleh berujung pada konflik sosial maupun perpecahan, terlebih di ruang publik dan media sosial.
“Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika harus hadir sebagai nilai hidup yang nyata. Perbedaan tidak semestinya melahirkan pertentangan, tetapi dikelola dengan kedewasaan, saling menghormati, dan etika berkomunikasi,” tegasnya.
Dalam refleksinya, Haedar juga menekankan pentingnya menggali makna yang lebih substansial dari berbagai fenomena sosial, politik, hukum, dan ekonomi yang berkembang. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada cara pandang yang dangkal, melainkan mampu melihat realitas secara lebih batiniah dan mendalam.
“Kita perlu melampaui cara berpikir yang dangkal dengan memahami realitas secara lebih mendalam, agar wawasan kebangsaan kita tumbuh dengan kesadaran moral dan kebijaksanaan,” ujarnya.

Lebih jauh, Haedar menekankan pentingnya penguatan jiwa, pikiran, dan tindakan yang berpijak pada hikmah kebijaksanaan, nilai-nilai moral dan agama, serta semangat kebersamaan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
“Refleksi akhir tahun seharusnya menjadi renungan yang menumbuhkan kualitas jiwa, pikiran, dan tindakan, sehingga kehidupan kebangsaan dan spiritual kita semakin bermakna,” kata Haedar.
Di lingkungan internal Muhammadiyah, Haedar juga mengingatkan pentingnya muhasabah berkelanjutan dalam merawat kemajuan persyarikatan.

Ia menegaskan bahwa berbagai capaian dan kontribusi Muhammadiyah bagi bangsa tidak cukup dipandang sebagai keberhasilan formal semata.
“Kemajuan Muhammadiyah harus disyukuri sebagai anugerah, tetapi sekaligus dijaga melalui introspeksi, pembaruan, dan reformasi yang berkelanjutan agar tetap memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa,” pungkasnya. (fur)
