NGAMPEL, KENDALMU.OR.ID – Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngampel kembali menggema dengan pesan tegas tentang esensi puasa Ramadan, Ahad (1/3/2026), di Aula Kecamatan Ngampel.
Puluhan anggota PCM dan pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) memadati ruangan sejak pagi, menyimak penguatan fikih puasa yang disampaikan Ustadz Mustofa.
Dalam kajiannya yang merujuk pada kitab Bulughul Maram bab puasa, Ustadz Mustofa menegaskan bahwa inti puasa terletak pada dua hal pokok: niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
“Puasa ada dua hal penting untuk dilaksanakan, satu niat dan dua tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami istri dari terbit fajar hingga magrib,” tegasnya di hadapan jamaah.
Ia juga mengingatkan pentingnya sahur sebagai amalan yang mengandung keberkahan. Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, ia menjelaskan bahwa sahur bukan sekadar makan, tetapi terkait waktu utama pada sepertiga malam terakhir menjelang subuh.

Sahur yang dilakukan terlalu awal, seperti pukul 22.00 atau 24.00, dinilai tidak sesuai dengan anjuran waktu yang lebih utama.
Selain itu, Ustadz Mustofa menekankan agar umat Islam menyegerakan berbuka ketika waktu magrib tiba. Namun, ia mengingatkan agar tidak terburu-buru sebelum waktunya. “Bersegera bukan berarti mendahului waktu. Kita tetap menunggu azan magrib,” ujarnya.
Terkait menu berbuka, ia menyebut anjuran Rasulullah SAW untuk berbuka dengan kurma. Namun, bagi masyarakat di iklim tropis, buah berserat seperti pisang atau pepaya, serta air putih atau teh hangat, dinilai lebih sesuai agar tubuh tidak kaget setelah seharian berpuasa.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan dari kebohongan dan ghibah agar pahala tidak berkurang.
Ia menegaskan bahwa pahala Ramadan berbeda dengan bulan lainnya karena langsung dibalas oleh Allah SWT dan tidak terhingga.
Menutup ceramahnya, Ustadz Mustofa membagi golongan orang berpuasa menjadi tiga tingkatan, seraya berpesan, “Mari kita beramal sesuai yang Allah inginkan dan jangan membuat Allah murka.” (rio)
