BANTEN, KENDALMU.OR.ID – Merespons dinamika global yang semakin kompleks, mulai dari gejolak ekonomi dunia, isu domestik, perkembangan teknologi, persoalan perempuan, hingga krisis iklim, Nasyiatul Aisyiyah (NA) menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi. Sebagai organisasi perempuan muda Muhammadiyah, NA ingin memastikan kiprahnya tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari, dalam Pidato Iftitah acara Tanwir II Nasyiatul Aisyiyah di Banten, Kamis (4/9). Menurut Ariati, organisasi perempuan saat ini dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang besar dalam membentuk masa depan bangsa.
“Organisasi perempuan hari ini menghadapi tantangan atas situasi perempuan, terutama dalam menghadapi peradaban dua arah: arus digital dan arus ekologis. Namun, peluang untuk terlibat dalam desain dan pelaksanaan kebijakan yang inklusif juga terbuka lebar, dan itu harus terus dikawal,” ujarnya.
Ariati menekankan bahwa program-program NA ke depan harus semakin kreatif dan inovatif. Integrasi teknologi digital serta kepedulian ekologis menjadi kunci agar NA mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern.
“Program-program masa kini dan mendatang perlu terintegrasi dengan teknologi digital sekaligus berpusat pada nilai ekologis. Misalnya, penyiapan pemimpin publik yang berbicara kebijakan berbasis gender, kesadaran anggaran responsif gender, hingga literasi iklim melalui sekolah pemimpin perempuan muda,” jelasnya.
Di bidang ekonomi, NA sedang menginisiasi Buku Panduan Badan Usaha Nasyiatul Aisyiyah (BUANA) dan membentuk Asosiasi Pengusaha Nasyiah (APUNA). Keduanya diarahkan untuk memperkuat basis wirausaha hijau, care economy, serta ekonomi digital.
NA juga mendorong lahirnya model bisnis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, seperti agrowisata organik, UMKM berbasis ekonomi sirkular, hingga startup energi terbarukan berbasis panel surya dan biogas.
Selain itu, NA tengah mengembangkan platform digital dengan nilai sosial dan solidaritas, mencakup layanan edukasi daring, dukungan psikososial, kesehatan, mentorship, hingga program digital leadership.
“Nasyiatul Aisyiyah harus membangun kemitraan strategis dengan kampus, BUMN, lembaga filantropi, hingga UN Agencies untuk mengakses dukungan dalam isu digital inclusion, ketahanan iklim, Gender Based Violence (GBV), STEM, serta program inovatif yang mendukung SDGs,” tambah Ariati.
Meski terus berinovasi, Ariati menegaskan bahwa Nasyiatul Aisyiyah tidak akan meninggalkan nilai-nilai Islam yang menjadi ruh gerakan sejak berdiri pada 1931.
“Al-Qur’an adalah sumber etika dan visi keberlanjutan. Kader NA tidak sekadar mengikuti arus global, tapi mampu menyaringnya dengan nilai Islam Berkemajuan. Dengan budaya baca, kader NA siap menghadapi derasnya arus informasi, sekaligus memproduksi gagasan untuk literasi digital dan advokasi perempuan,” ungkapnya.
Ariati juga menekankan pentingnya kader NA menjaga keseimbangan antara peran domestik dan sosial. “Kader NA bukan hanya aktivis publik, tetapi juga teladan dalam rumah tangga,” tambahnya.
Dengan semangat Islam Berkemajuan dan visi kebangsaan yang kuat, Nasyiatul Aisyiyah terus berkomitmen menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi perempuan muda yang tangguh, adaptif, dan berdaya saing. Melalui inovasi program, penguatan kapasitas kader, dan sinergi lintas sektor, NA ingin memastikan kontribusinya nyata, baik dalam isu kontemporer maupun dalam menjunjung nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
