SUKOREJO. KENDALMU.OR.ID. Suasana hangat dan penuh khidmat terasa di Masjid Al-Mujahidin Sumber, Kebumen Utara, Sukorejo, Sabtu (31/5/2025), ketika puluhan orang tua siswa Kelas I hingga V Muhammad mengikuti Seminar Parenting dan Motivasi Kelas Tahfidz yang digelar oleh SD Muhammadiyah Sukorejo (SD Muhas).
Kegiatan ini menjadi ruang sinergi antara orang tua dan sekolah dalam mencetak generasi Qur’ani yang tangguh di tengah tantangan zaman.
Dalam sambutannya, Slamet Ariyadi, Koordinator Kelas Tahfidz, menegaskan bahwa pendampingan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga merupakan amanah besar yang harus dijalani bersama orang tua.
Menurutnya, kegiatan ini dirancang sebagai jembatan komunikasi antara kedua pihak.
“Seminar ini kami adakan rutin setiap semester. Selain sebagai sarana silaturahmi, forum ini penting untuk menyamakan persepsi dan frekuensi dalam mendampingi anak-anak menghafal dan mencintai Al-Qur’an,” ujar Ariyadi.

Acara dibuka dengan diskusi interaktif yang dipandu oleh Agus Sukron, menyoroti pentingnya keterlibatan aktif orang tua dalam proses hafalan dan pembiasaan interaksi dengan Al-Qur’an di rumah. Suasana semakin syahdu ketika tiga siswa kelas IV Muhammad — Aqila, Diva, dan Ifa — melantunkan ayat suci Al-Qur’an dari surah Al-Muzzammil.
Sebagai pemateri utama, hadir Ustadz Sani A. Rahman dari Weleri yang menyampaikan materi bertema mencari keberkahan dalam pendidikan anak. Ia menekankan bahwa pendidikan yang diberkahi adalah fondasi kokoh dalam membentuk karakter anak.
“Jangan salah menitipkan anak. Pendidikan yang berkah tidak akan goyah meskipun diterpa konflik, karena di dalamnya ada amal jariyah, ada ketakwaan, dan ada keihsanan,” tegas Ustadz Sani.
Ia menambahkan bahwa landasan agama yang kuat sejak dini akan menjadi penolong anak saat mereka tersesat dalam perjalanan hidupnya. Menurutnya, kunci utama keshalihan anak adalah keshalihan orang tuanya terlebih dahulu.

“Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk anak-anak kita. Tapi jika kita ingin mereka menjadi anak yang baik, maka orang tuanya juga harus menanamkan kebaikan lebih dahulu,” tambahnya.
Seminar ini mendapat respons positif dari para orang tua yang hadir. Mereka terlihat antusias mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab, mencerminkan kesadaran bahwa membentuk karakter Qur’ani bukanlah tugas yang bisa diserahkan sepenuhnya pada sekolah.
Di penghujung acara, kembali ditekankan bahwa menjadi orang tua di akhir zaman adalah tantangan besar, terutama dalam menjaga anak dari godaan yang datang melalui pandangan dan pendengaran. Oleh karena itu, komitmen bersama antara guru dan orang tua menjadi pondasi penting dalam membimbing generasi muda agar tetap dekat dengan Al-Qur’an.
Seminar ini bukan sekadar ajang temu, tapi juga momentum untuk mempererat sinergi demi membentuk generasi yang bukan hanya cerdas, tapi juga berakhlak dan bercahaya dalam tuntunan wahyu. (nisa)
Kontributor : Dhanika Afiyanisa. Editor : Abdul Ghofur
