NGAMPEL, KENDALMU.OR.ID – Hakikat penciptaan manusia sebagai makhluk yang diperintahkan untuk beribadah kepada Allah SWT menjadi pokok bahasan dalam Kajian Rutin Tafsir Al-Qur’an Ahad Pagi Al-Ikhlas Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngampel, Ahad (28/12), yang digelar di Aula Kecamatan Ngampel.
Kegiatan tersebut diikuti oleh anggota PCM Ngampel serta pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-Kecamatan Ngampel.
Kajian disampaikan oleh Ustadz Drajat Maulana dengan materi tafsir Surat Al-Baqarah ayat 28 yang menjelaskan tentang hakikat kehidupan, kematian, dan kembalinya manusia kepada Allah SWT.
Dalam pembukaannya, Ustadz Drajat membacakan ayat tersebut sebagai dasar pembahasan tentang pentingnya ketaatan dan tauhid dalam kehidupan seorang muslim.
كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ٢٨
Artinya: ‘Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan?

Ia menjelaskan bahwa para mufasir menilai ayat tersebut sebagai bentuk teguran Allah kepada manusia yang mengingkari-Nya, meskipun telah diberi kehidupan dan berbagai nikmat.
Menurutnya, banyak manusia justru terjerumus pada praktik-praktik menyimpang yang dapat mengarah pada bid’ah bahkan kesyirikan.
“Pertanyaan dalam ayat ini tidak untuk dijawab, tetapi sebagai teguran keras mengapa manusia justru melakukan perbuatan yang menyesatkan dan membahayakan akidah,” tegas Ustadz Drajat.
Ia mencontohkan sejumlah tradisi yang menurutnya tidak sejalan dengan ajaran Islam, seperti kegiatan seremonial yang menutup jalan umum dan dilakukan atas dasar keyakinan tertentu di luar tuntunan syariat.
“Untuk apa acara seperti suronan sampai menutup jalan. Saya pernah mengalami sendiri hendak mengisi pengajian tetapi terhalang karena jalan ditutup untuk acara makan bersama. Mengapa tidak dilakukan di tempat yang lebih tepat seperti masjid atau rumah warga,” ungkapnya.
Ustadz Drajat menegaskan bahwa praktik-praktik semacam itu kerap muncul karena adanya rasa takut terhadap hal gaib selain Allah, yang akhirnya menjauhkan manusia dari nilai tauhid.
“Ini terjadi karena manusia takut kepada selain Allah. Akhirnya bukan takut kepada Allah, tetapi takut kepada yang lain. Ini yang harus diluruskan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung makna takut kepada Allah sebagai bagian penting dari ketakwaan.

Menurutnya, banyak pelanggaran terjadi karena seseorang tidak menjadikan rasa takut kepada Allah sebagai landasan sikap.
“Orang melakukan kesalahan karena takut kepada manusia, kepada atasan, atau kepentingan tertentu, bukan takut kepada Allah. Padahal takut kepada Allah adalah inti dari takwa. Ini yang harus kita latih dan terapkan, meskipun tidak mudah,” ujarnya.
Dalam penjelasannya tentang lanjutan ayat tersebut, Ustadz Drajat menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia, mematikannya, lalu akan membangkitkannya kembali pada hari kiamat.
Proses itu merupakan ketetapan Ilahi yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun.
“Allah menciptakan kita dari tanah, lalu kita kembali ke tanah. Kematian adalah bentuk paling terhormat. Bayangkan jika tidak ada kematian, manusia bisa dikubur hidup-hidup,” jelasnya.
Menutup kajian, Ustadz Drajat mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, melakukan introspeksi diri, serta memperbanyak bekal amal sebagai persiapan menghadapi kehidupan akhirat.
“Kita harus kembali kepada ajaran yang benar, memperbaiki diri, dan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan setelah mati,” pungkasnya. (rio)
