BANDUNGAN.KENDALMU.OR.ID. Kata pertama yang diturunkan kepada Rasulullah dalam wahyu Ilahi adalah Iqra’, bacalah.
Namun perintah ini bukan sekadar ajakan untuk melafalkan huruf dan kata, melainkan panggilan spiritual yang menyentuh dimensi lisan, akal, dan hati secara utuh.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal, Ustadz Romanto Pribadi dalam kultum usai shalat subuh berjamaah pada rangkaian Musyawarah Pimpinan Daerah (Musypimda) II Muhammadiyah Kendal, Ahad pagi (27/7/2025) di salah satu hotel kawasan Bandungan, Semarang.
“Iqra’ adalah panggilan membaca atas nama Tuhanmu. Bacaan yang tidak hanya berhenti pada teks, tapi menghubungkan lisan, akal dan hati dalam keterpautan dengan Allah,” tutur Ustadz Romanto mengawali tausiyahnya yang mengalir penuh makna.
Ia menegaskan, ilmu dalam Islam bukan semata-mata alat untuk menguasai dunia, tetapi jembatan menuju iman dan kemuliaan hidup.
“Ilmu harus disebut dan dijalani atas nama Allah. Ilmu tanpa iman hanyalah kendaraan kesombongan, kefasikan, dan kerusakan,” ujarnya.

Romanto mengingatkan, sejarah telah mencatat kisah-kisah orang berilmu yang justru terjerumus dalam kehinaan karena tidak berpijak pada keimanan. Salah satu contoh nyata adalah Qorun.
“Qorun menganggap hartanya berasal dari ilmunya sendiri. Ia sombong dan lupa bahwa ilmu sejati harus tunduk kepada kehendak Allah. Akhirnya ia dan rumahnya dibenamkan ke dalam bumi bersama seluruh kekayaannya,” jelasnya seraya mengutip ayat Al-Qur’an dalam surat Al-Qashash: Qāla innamā ụtītuhụ ‘alā ‘ilmin ‘indī (Qorun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku”).
Menurutnya, Qorun adalah potret nyata orang cerdas yang kehilangan arah karena ilmu tidak disertai iman.
Ustadz Romanto mengajak para peserta Musypimda untuk menjadikan kisah itu sebagai pelajaran berharga.
“Banyak orang cerdas tapi tidak bermanfaat, karena ilmunya jauh dari nilai-nilai keimanan. Maka muncullah kebohongan, korupsi, dan kejahatan. Ilmu yang tidak diterangi iman hanya melahirkan kegelapan,” tandasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak para pimpinan dan peserta Musypimda untuk menjadikan agenda ini sebagai tempat tahannuts, tempat merenung, menyucikan niat, dan mengokohkan tekad perjuangan.
“Bedanya, kita tidur nyenyak, makan enak dan bergizi. Tapi semangatnya tetap tahannuts — menguatkan ruhani, menyucikan langkah, menjadikan ilmu sebagai cahaya penerang umat,” ucapnya disambut senyum jamaah yang hadir.
Ia menutup kultum dengan ajakan reflektif: “Mari jadikan ilmu bukan hanya alat untuk mengetahui, tetapi menjadi lentera yang menerangi jalan perjuangan. Ilmu yang menyatu dengan iman adalah fondasi umat yang kuat, pimpinan yang lurus niatnya, dan peradaban yang bercahaya, penuh kemanfaatan” ajaknya. (fur)
