SUKOREJO.KENDALMU.OR.ID — Di usia 64 tahun, Sunardi memilih menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan bersepeda dari Jakarta menuju kampung halamannya di Temanggung demi menjaga silaturahmi, sebuah langkah yang menyita perhatian di tengah kebiasaan mudik konvensional.
Warga kelahiran Rejosari, Pringsurat, Temanggung, yang kini menetap di Jakarta Barat itu memulai perjalanan pada Ahad, (22/3/2026) pukul 06.00 WIB.
Dengan tekad kuat, ia mengayuh sepeda seorang diri menembus jalur Pantura.
Pada hari pertama, Sunardi mampu menempuh perjalanan hingga wilayah Jawa Barat.
Ia tiba di Subang pada Ahad sore sekitar pukul 18.00 WIB, lalu melanjutkan perjalanan hingga mencapai Indramayu pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB.
Perjalanan kemudian berlanjut memasuki wilayah Jawa Tengah. Dalam perjalanannya, Sunardi mengandalkan masjid sebagai tempat beristirahat.
Selama tiga hari, ia beberapa kali bermalam di masjid, memanfaatkan fasilitas yang ada sekaligus menjalankan ibadah.

“Saya memilih Masjid Al Huda karena nyaman dan masyarakatnya ramah,” ungkap beliau
Ia juga menuturkan rasa syukurnya atas pertolongan yang terus hadir di sepanjang perjalanan.
“Alhamdulillah, setiap saya singgah, Allah juga memberikan bantuan melalui orang-orang baik yang saya temui,” tambahnya
Inspirasi dari Kayuhan Sederhana
Sunardi sehari-hari adalah penjual peyek dan juga tukang pijat.
Namun dari kesederhanaannya, lahir keteguhan yang luar biasa. Ia membuktika bahwa silaturahmi tidak menunggu kondisi sempurna, tetapi membutuhkan kemauan dan keberanian untuk melangkah.
Sebagai salah satu anak yg merantau ke Jakarta beliau merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga hubungan keluarga. Perjalanan ini juga menjadi bagian dari upaya menyambung silaturahmi dengan saudara-saudaranya di Temangung dan Jogja.
Menariknya, beliau lebih memilih sepeda dibanding kendaraan lain. Menurutnya, sepeda terasa lebih nyaman, lebih dekat dengan alam, dan memberi ruang untuk menikmati setiap proses perjalanan.
Meski demikian, perjalanan ini tidak ringan. Tanjakan Weleri–Sukorejo dan jalur Tanjakan Rujak Asem menuju Temanggung menjadi bagian tersulit.
Namun justru di situlah letak makna: bahwa setiap perjalanan menuju kebaikan pasti memiliki ujian, dan keindahan sering kali hadir setelah kesulitan dilalui.
Tekad dan Niat yang Mengalahkan Kekhawatiran
Ada kisah unik di balik keberangkatan beliau. Sunardi mengaku tidak meminta izin secara penuh kepada keluarga sebelum memulai perjalanan. Ia memilih berangkat terlebih dahulu, kemudian menyampaikan kabar setelah beberapa jam di perjalanan. Menurutnya, jika izin disampaikan sejak awal, besar kemungkinan keberangkatannya akan dilarang oleh anak, istri, maupun cucunya.
“Kalau izin dulu, ya tidak boleh. Jadi saya kabari lewat telepon setelah di perjalanan, kadang saat sudah sampai Subang,” ujarnya sambil tersenyum.
Di balik kisah tersebut, tersimpan pesan yang kuat tentang kerinduan yang sulit ditunda. Ada panggilan hati untuk menyambung silaturahmi yang dirasakannya lebih besar daripada rasa khawatir yang ada.

Silaturahmi: Jalan Panjang yang Menghidupkan Hati
Perjalanan Sunardi bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati. Ia mengajarkan bahwa kembali ke kampung halaman bukan hanya soal tempat, tetapi juga tentang mengingat asal-usul dan tujuan akhir kehidupan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan.”
(QS. An-Nisa: 1)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Masjid sebagai Rumah Musafir
Masjid Al Huda Sukorejo menjadi bagian penting dalam kisah ini. Kehangatan dan kenyamanan yang dirasakan Sunardi menunjukkan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga tempat bernaung bagi para musafir. Keramahan warga menjadi wajah Islam yang nyata bahwa memuliakan tamu dan membantu musafir adalah bagian dari nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Dari beliau, kita belajar bahwa , usia bukan batas untuk berbuat kebaikan, jarak bukan penghalang untuk silaturahmi dan kesederhanaan bukan penghalang untuk memberi inspirasi Lebih dari itu, beliau mengingatkan kita bahwa sejauh apa pun kita melangkah, kita akan kembali—kembali ke keluarga, kembali ke asal, dan pada akhirnya kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.(silo)
