BOJA, KENDALMU.OR.ID – Kesalehan ritual ternyata belum tentu berbanding lurus dengan cinta Allah. Sebuah kisah klasik dalam kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Ghazali kembali mengingatkan umat Islam bahwa ibadah tanpa kepedulian sosial bisa kehilangan maknanya.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustadz Widodo dalam kajian usai jamaah jamaah shalat subuh di Mushalla At Taqwa Boja Barat, Sabtu pagi (24/1/2026).
Lebih lanjut Ustadz Widodo menyampaikan, Imam Ghazali mengisahkan tentang Abu bin Hasyim, seorang ahli ibadah yang dikenal tak pernah absen menunaikan shalat tahajud selama bertahun-tahun.
Hampir setiap malam ia bangun, berwudhu, dan bermunajat kepada Allah SWT di sepertiga malam terakhir.
Namun suatu malam, ketika hendak mengambil air wudhu, Abu bin Hasyim dikejutkan oleh kehadiran sesosok makhluk di bibir sumur.
Setelah ditanya, sosok itu memperkenalkan diri sebagai malaikat utusan Allah SWT.
“Aku diperintahkan untuk mencari hamba-hamba pecinta Allah,” ujar malaikat tersebut, sebagaimana dikisahkan Imam Ghazali.
Malaikat itu membawa sebuah kitab tebal berisi nama-nama hamba yang dicintai Allah SWT. Melihat hal itu, Abu bin Hasyim berharap namanya tercantum di dalamnya. Ia pun bertanya dengan penuh keyakinan.
Namun setelah diperiksa berulang kali, malaikat itu menyampaikan jawaban yang mengejutkan. “Namamu tidak tercantum dalam kitab ini,” kata sang malaikat dengan tegas.
Mendengar hal tersebut, Abu bin Hasyim gemetar dan jatuh tersungkur. Ia menangis menyesali amal ibadahnya.
“Betapa ruginya diriku. Setiap malam aku berdiri dalam tahajud, tetapi namaku tidak termasuk golongan pecinta Allah,” ucapnya lirih.

Sang malaikat kemudian menjelaskan penyebabnya. “Bukan karena engkau tidak beribadah. Allah melarangku menuliskan namamu karena engkau memamerkan ibadahmu dengan rasa bangga dan hanya memikirkan dirimu sendiri,” ujar malaikat itu.
Ia menambahkan, Abu bin Hasyim lalai terhadap sesama. “Di sekitarmu ada orang sakit dan lapar, tetapi tidak engkau jenguk dan beri makan.
Bagaimana mungkin engkau mencintai Allah, jika engkau tidak mencintai hamba-hamba-Nya?”
Kisah ini menjadi pengingat kuat bahwa ibadah tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah SWT, tetapi juga harus diwujudkan dalam kepedulian sosial dan kasih sayang terhadap sesama serta alam sekitar.
“Imam Ghazali menegaskan, kebanggaan terhadap amal ibadah tanpa disertai solidaritas sosial justru dapat menjadi penghalang seseorang meraih cinta Allah SWT,” ujarnya.
Pesan tersebut, menurut Ustadz Widodo, menjadi pengingat keras bagi umat Islam agar tidak terjebak pada ibadah yang bersifat simbolik dan penuh rasa bangga diri.
“Ibadah yang hanya berhenti pada sajadah, tetapi tidak turun ke jalan untuk menolong sesama, sejatinya belum sempurna,” tegas Ustadz Widodo dalam ceramahnya.
Ia menekankan bahwa cinta kepada Allah harus tercermin dalam kepedulian terhadap orang-orang di sekitar, terutama mereka yang sakit, lapar, dan membutuhkan uluran tangan.
Menurutnya, shalat, puasa, dan dzikir akan kehilangan ruh jika tidak dibarengi empati sosial.
“Allah tidak membutuhkan tahajud kita, yang membutuhkan adalah saudara kita yang kelaparan. Jika itu kita abaikan, jangan heran bila ibadah kita tak berbuah cinta Ilahi,” ujarnya lugas.
Ustadz Widodo menutup pesannya dengan mengingatkan agar umat tidak mudah merasa suci atas amal pribadi.
“Jangan bangga dengan ibadah, banggalah jika ibadah itu membuat kita lebih peduli, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat bagi sesama,” pungkasnya. (pardi)
