KENDAL, KENDALMU.OR.ID – Ketika senja perlahan menurunkan tirainya di langit Kendal, cahaya jingga berbaur lembut dengan gulita yang mulai merayap di ufuk barat.
Angin sehabis maghrib berembus pelan, membawa langkah-langkah jamaah yang berdatangan menuju Masjid Mujahidin Kendal.
Di halaman masjid yang teduh itu, suasana terasa berbeda dari hari-hari biasa. Sejak sore, pelataran dan serambi mulai dipenuhi wajah-wajah antusias, menanti waktu maghrib tiba — dan bersama itu, menanti pula kehadiran seorang tokoh nasional yang namanya akrab di telinga banyak orang: Anies Baswedan.
Ketika suara azan maghrib menggema lembut dari menara yang menjulang, sosok yang dinanti belum juga tiba.

Namun, jamaah tetap larut dalam kekhusyukan ibadah. Barisan saf tersusun rapi, memenuhi ruang utama masjid hingga serambi luar, sepadat salat Jumat. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal, KH. Ikhsan Intizam, memimpin salat dengan suara bacaan yang merdu dan menenangkan. Di antara barisan jamaah, terpancar rasa damai yang menyatu dengan keheningan maghrib yang suci.
Usai salam terakhir, suasana kembali hidup. Jamaah mulai berkerumun di halaman, sebagian memilih duduk bersandar di tiang serambi, menunggu kabar kedatangan sang tamu kehormatan.

Waktu terus berjalan, sepuluh menit berlalu setelah salat maghrib. Begitu kabar beredar bahwa rombongan Anies Baswedan sebentar lagi tiba, gelombang antusiasme pun tak terbendung. Jamaah berdiri, menatap ke arah jalan dengan mata berbinar dan hati berdebar.
Beberapa saat kemudian, dua mobil — hitam dan putih — melintas perlahan memasuki halaman masjid. Sorot lampunya menembus kerumunan jamaah yang kian rapat. Begitu salah satu pintu terbuka dan Anies Baswedan menapakkan kaki, tepuk tangan dan lantunan takbir bergema bersamaan. Suasana yang semula hening berubah menjadi lautan sambutan yang hangat dan penuh hormat.

‘Aisyiyah Kendal, Nurul Komariyah di rumah dinas Bupati Kendal. (rif)
Anies melangkah perlahan, menyapa satu per satu jamaah dengan senyum khasnya. Tangan-tangan terulur ingin bersalaman, dan beberapa di antaranya bahkan menunduk mencium tangannya dengan takzim.
Tak ada jarak antara tamu dan jamaah; yang ada hanyalah rasa hormat, kebanggaan, dan persaudaraan yang menyatukan.
Ketika Anies dipersilakan duduk dekat mimbar bersama KH. Ikhsan Intizam, Sekretaris PDM Kendal, Moechammad Noer Agoes Hidayat, dan Wakil Ketua PDM Kendal, Muntoha, ia tidak langsung duduk. Ia menatap ke arah lantai atas, tersenyum, melambaikan tangan, dan mengucap salam kepada jamaah yang memenuhi setiap sudut masjid. Suasana seketika menjadi hangat dan bersahabat.
Dalam sambutannya, KH. Ikhsan Intizam menyampaikan bahwa jamaah yang hadir malam itu bukan hanya warga sekitar Masjid Mujahidin, tetapi juga dari luar kota.

“Masjid Mujahidin Kendal ramah jamaah dan dibuka 24 jam dengan fasilitas lengkap,” ujarnya. Ia menambahkan, kehadiran Anies di masjid ini bukan semata kunjungan tokoh publik, melainkan juga simbol semangat perubahan dan keteladanan.
“Mudah-mudahan kunjungan Mas Anies ini menambah motivasi bagi warga Kendal untuk semakin mencintai dan memakmurkan masjid,” tambahnya.
Sebelum tiba di Masjid Mujahidin, Anies sempat berkunjung ke Desa Wonosari, Pegandon, meninjau jembatan tua peninggalan Belanda yang sudah berusia lebih dari seratus tahun. Jembatan tersebut hanya berupa balok-balok kayu, dilalui warga dengan motor trail sambil membawa pupuk di depan dan belakang.
“Saya sampai kagum sekaligus ngeri karena jembatannya tinggi sekali, tapi warga naik dengan luar biasa,” tuturnya.
Ia berjanji, bila ada kesempatan, jembatan tersebut akan dibangun kembali dengan kokoh dan layak, agar para petani bisa melintas dengan aman.
“Kalau tidak ada jembatan penghubung, yang paling menderita adalah ibu-ibu. Ada yang mengandung dan meninggal bukan karena tak bisa ditangani dokter, tapi karena tak sampai ke puskesmas,” ucapnya prihatin.
Anies juga menyinggung pentingnya kejujuran dan integritas dalam pemerintahan.
“Kalau nanti ada kesempatan untuk melakukan perubahan, jangan jual beli jabatan. Supaya kebijakan yang disusun benar-benar untuk kebaikan orang banyak,” tegasnya.
Menjelang akhir pertemuan, Anies menyampaikan pesan khusus kepada Muhammadiyah yang sebentar lagi berusia 113 tahun.
Ia mengajak agar Muhammadiyah memberikan perhatian lebih pada pendidikan anak usia dini.
“Kebiasaan-kebiasaan baik dimulai sejak kecil. Anak yang sejak dini dibiasakan membedakan antara milik sendiri dan milik orang lain, kelak tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan amanah,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendidikan anak usia dini adalah investasi terbaik bagi bangsa.
“Banyak penelitian, termasuk yang meraih Nobel bidang ekonomi, membuktikan bahwa pendidikan usia dini memberi manfaat paling besar. Tapi sering kali perhatian dan anggaran kita justru lebih banyak untuk perguruan tinggi, padahal efek pendidikan itu jangka panjang,” jelasnya.
Anies menutup pesannya dengan nada optimistis untuk mendapatkan perhatian lebih serius.
“Muhammadiyah tidak berpikir lima tahunan, tetapi berpikir jangka panjang. Insya Allah, Muhammadiyah akan terus panjang usia dan memberi manfaat bagi umat. Dan saya berharap, Muhammadiyah Kendal memberi perhatian besar pada pendidikan anak usia dini,” tandasnya.
Silaturahmi Anies Baswedan bersama warga Kendal pun berakhir dalam keteduhan salat Isya berjamaah, dipimpin oleh Imam Syahrul Rofi — sebuah penutup yang khusyuk, seindah doa yang pelan-pelan naik menembus langit malam. (fur)
